Beranda > Berita tekhnologi > Avatar 3D Picu Penonton Depresi & Bunuh Diri

Avatar 3D Picu Penonton Depresi & Bunuh Diri

Keajaiban dunia Avatar yang dihadirkan dalam format 3D (tiga dimensi) rupanya benar-benar membuai penonton hingga banyak dari mereka yang kehilangan akal sehat.Tidak sedikit dari penonton yang lupa kalau Planet Pandora yang menjadi latar setting Avatar hanyalah dunia rekaan sutradara James Cameron.
Hanya beberapa pekan setelah Avatar diputar awal Desember silam, ribuan penonton mengaku depresi karena tidak bisa tinggal di Planet Pandora yang elok dan penuh keajaiban. Yang menyeramkan, beberapa dari mereka berniat bunuh diri karena terlalu depresi dan mendapati dunia nyata tidak seindah Pandora. Dalam dunia rekaan Cameron, Planet Pandora digambarkan sangat indah dengan binatang berbagai rupa berada di sana.
Tidak seperti tumbuhan di Bumi, tumbuhan di Planet Pandora mengeluarkan cahaya sehingga tidak dibutuhkan lampu atau api sebagai penerang di malam hari. Suku Na’vi yang mendiami Pandora juga hidup dalam ikatan persaudaraan yang sangat kuat. Bagi banyak penonton, keindahan Planet Pandora seperti dunia khayalan yang menjelma menjadi kenyataan lewat layar 3D.

Banyaknya penonton yang depresi ini bisa dilihat dari ribuan posting di berbagai forum internet. “Saya mengerti dengan perasaan depresi penonton karena saya pun mengalaminya. Berdiskusi atau sekadar ngobrol dengan penonton yang mengalami persoalan serupa sangat membantu,” tulis seorang pengguna internet.
Berdasarkan catatan CNN, sebuah situs penggemar film Avatar di Amerika Utara menerima 1.000 posting terkait depresi penonton. Mereka mencoba berbagi depresi hingga berbagi tip untuk menjauhkan mereka dari “kegilaan”. Salah satu tip berjudul “Cara-Cara Mengatasi Depresi karena Memimpikan Pandora yang Tidak Bisa Dijelaskan.”
“Saat saya bangun di pagi hari setelah menonton Avatar, dunia menjadi abu-abu. Dunia ini seperti tidak berarti lagi.Saya tidak memiliki alasan untuk tinggal di sini, saya tinggal di dunia yang tengah mati,” tulis seseorang di situs tersebut. Penulis lain yang memakai nama ‘Okoi’ bercerita bagaimana dia harus bersusah payah menghilangkan kesedihan karena terlalu terbuai dengan Pandora.
Ahli jiwa dari Louis Armstrong Centre, New York, Dr Stephan Quentzel mengaku prihatin dengan fenomena depresi penonton Avatar. Dia mengingatkan bahwa Avatar hanyalah film.
“Dunia virtual bukanlah kehidupan nyata dan tidak akan menjadi nyata. Kecanggihan teknologi menciptakan dunia virtual seperti kenyataan dan membuat dunia nyata sangat tidak sempurna,” imbuhnya.

Keajaiban dunia Avatar yang dihadirkan dalam format 3D (tiga dimensi) rupanya benar-benar membuai penonton hingga banyak dari mereka yang kehilangan akal sehat.Tidak sedikit dari penonton yang lupa kalau Planet Pandora yang menjadi latar setting Avatar hanyalah dunia rekaan sutradara James Cameron.
Hanya beberapa pekan setelah Avatar diputar awal Desember silam, ribuan penonton mengaku depresi karena tidak bisa tinggal di Planet Pandora yang elok dan penuh keajaiban. Yang menyeramkan, beberapa dari mereka berniat bunuh diri karena terlalu depresi dan mendapati dunia nyata tidak seindah Pandora. Dalam dunia rekaan Cameron, Planet Pandora digambarkan sangat indah dengan binatang berbagai rupa berada di sana.
Tidak seperti tumbuhan di Bumi, tumbuhan di Planet Pandora mengeluarkan cahaya sehingga tidak dibutuhkan lampu atau api sebagai penerang di malam hari. Suku Na’vi yang mendiami Pandora juga hidup dalam ikatan persaudaraan yang sangat kuat. Bagi banyak penonton, keindahan Planet Pandora seperti dunia khayalan yang menjelma menjadi kenyataan lewat layar 3D.
(Techno.okezone.com)

Iklan
  1. 13 Januari 2010 pukul 9:21 am

    ya ampun sampe segitunya…

    emang si nonton yang 3D emang lebih nyata..
    sampe2 gue pun refleks menghindar ketika peluru ditembakkan..
    tapi gak sampe depresi kalieee…

    Suka

  2. 13 Januari 2010 pukul 4:28 pm

    bner kalo nntn yg 3D ampe kayak bner2 msug kedunia avatar

    Ternyata Film Avatar The Movie Ada Adegan Syurrnya Tapi dipotong must see click here

    Suka

  3. cAy
    13 Januari 2010 pukul 6:38 pm

    Ah tolol aja ngga bisa bedain mana dunia virtual dan nyata, bukan salah James Cameron dan teknologi 3D, sikap harus proaktif dong,bukannya malah terbuai, tapi berbuat sesuatu kek bagi lingkungan … Bahkan James Cameron-pun tetap terinspirasi dari apa yg ada di dunia nyata, hanya dia menggabungkan dgn kejeniusannya mereka-reka planet pandora yg indah … Sungguh malang sekali mereka2 yg depresi … Like Jake Sully says ‘sooner or later,people have to wake up’

    Suka

  4. Robby
    14 Januari 2010 pukul 12:02 am

    Ada2 aja,

    Suka

  5. 14 Januari 2010 pukul 1:44 am

    Jangan dijadiin alesan ah…….

    Suka

  6. 14 Januari 2010 pukul 1:07 pm

    hmm pengen nongton jadinya..

    Suka

  7. Tmy
    6 Juni 2011 pukul 4:14 pm

    emang sebagus apaan sih??, film gitu aja!

    Suka

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: