Beranda > Berita Muslim > Pencetus Larangan Berburqa Di Perancis Masuk Islam?

Pencetus Larangan Berburqa Di Perancis Masuk Islam?

PARIS  – Arsitek larangan burqa di Perancis terpaksa membantah klaim bahwa ia masuk agama Islam untuk menikahi pacarnya yang seorang Muslim.
Eric Besson, Menteri Imigrasi Perancis yang berusia 51 tahun, telah mengakui hubungannya dengan Yasmine Tordjman, seorang mahasiswi seni Paris yang usianya separuh usia Besson.

Namun konservatif garis keras itu mengancam akan mengambil tindakan hukum ketika sebuah website menyebutkan bahwa pasangan yang telah memiliki rumah bersama itu kemungkinan akan menikah, yang menurut hukum Islam mengharuskan ia untuk pindah agama.

Pengungkapan itu datang saat Besson memimpin sebuah kampanya melawan agama dan kebudayaan non-Kristen yang menyerbu Perancis.

Ia telah menyerukan agar penutup kepala seperti burqa dilarang dan menginginkan agar para calon pendatang mengambil tes berbahasa Perancis serta menyatakan sumpah setia kepada Republik.

Kebijakannya itu diterapkan terutama pada pendatang yang berasal dari negara-negara Muslim, yang tidak berbagi nilai-nilai yang sama dengan Perancis.

Tordjman, yang usianya baru di awal 20an, datang dari keluarga terkenal Muslim Tunisia yang terkait dengan mantan presiden negara itu, Habib Bourguiba.

Sebelum Natal, Besson, seorang duda cerai dengan tiga anak, pergi ke negara di Afrika Utara itu untuk menemui ibu Tordjman, menimbulkan spekulasi bahwa ia akan menikah di bulan Juni.

Namun menteri kelahiran Maroko itu telah merilis pernyataan bahwa ia menyesal harus membantah isu perpindahan agama “yang saya hormati, saya sangat terikat pada karakter sekuler Republik ini.”

Ia mengatakan sedang mempertimbangkan untuk menuntut website berita Bakchich Inf, yang menampilkan klaim tentang perpindahan agama tersebut.

Sebelumnya, Besson telah banyak diragukan reputasinya.

Tahun lalu, mantan istrinya Sylvie Brunel, 49, mengklaim bahwa Besson telah bersikap tidak setia selama lima tahun sebelum pernikahan mereka dan 25 tahun selama rumah tangga mereka berdiri.”

Dalam sebuah buku Brunel mengatakan bahwa Besson meninggalkannya untuk seorang wanita “yang seusia dengan putri sulung kami.”

Pertengahan Januari lalu, Besson menyulut perdebatan panas mengenai larangan terhadap jilbab di Perancis dengan mengatakan bahwa ia merasa pemakaian jilbab dapat menjadi pertimbangan dalam mengabulkan pengajuan kewarganegaraan Perancis.

Namun, seorang wanita yang rutin mengenakan jilbab untuk alasan relijius mengatakan bahwa larangan tersebut melanggar haknya sebagai seorang wanita, warga negara Perancis, dan seorang Muslim.

Menanggapi memanasnya perdebatan mengenai jilbab penuh, “Saya telah mengatakan bahwa menurut saya itu dapat menjadi salah satu elemen pertimbangan apakah telah terjadi integrasi yang baik atau tidak dari seseorang saat mereka mengajukan aplikasi kewarganegaraan Perancis.”

Namun, di daerah pinggiran Paris, Argenteuil, perdebatan itu membuat Aya Touati merasa hak beragama, hak demokratik, dan haknya sebagai wanita telah dilanggar.

Terlahir sebagai Helene Villers, wanita berusia 22 tahun ini masuk Islam saat masih remaja. Sebagai etnis Eropa, ia bukan salah satu dari beberapa juta orang Perancis keturunan Afrika Utara yang memeluk Islam.

Ia mengenakan jilbab penuh yang hanya memperlihatkan mata dan kacamatanya. Ia mengatakan telah mengenakan cadar selama beberapa tahun, sebelum bertemu dengan suaminya yang kelahiran Aljazair, yang tidak merasa bahwa jilbab penuh adalah kewajiban.

Touati mengatakan bahwa jilbab adalah sebuah kewajiban baginya karena ia ingin meniru para istri Nabi Muhammad, sebuah cara yang ia pilih untuk menunjukkan ketaatannya pada Islam.

Namun, wanita ini menentang perdebatan mengenai jilbab di Perancis.

“Suami saya tidak menganggapnya sebuah kewajiban. Ia senang saya mengenakannya karena ia tahu ini adalah bagian dari agama sehingga ia tidak melarangnya. Namun saya sendiri yang ingin mengenakannya. Bagaimanapun, saya mengenakan jilbab penuh ini sebelum bertemu dengannya.”

Sebuah komisi parlemen Perancis saat ini sedang memeriksa pemakaian jilbab dan seorang anggota koalisi sayap kanan pemerintah telah mengajukan sebuah rancangan undang-undang yang akan melarang pemakaian jilbab penuh – baik cadar maupun burqa – dan menjatuhkan denda sebesar 750 euro bagi yang melanggar.

Pendukung larangan mengatakan bahwa itu akan menegakkan keamanan dan memperkuat hak-hak wanita. Namun Touati mencemooh rencana itu.

“Saya tidak mengerti mengapa saya bisa didenda 750 euro hanya karena pergi membeli roti di luar sana. Kebanyakan orang tidak mampu membayar 750 euro. Itu adalah denda untuk para gangster dan pelaku kejahatan. Bukan untuk orang-orang jujur. 750 euro, itu penyalahgunaan kekuasaan,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan Reuters.

Meskipun Perancis memiliki komunitas Muslim terbesar di Eropa yang diperkirakan mencapai jumlah beberapa juta jiwa, mayoritas anggotanya tidak relijius. Hanya segelintir wanita – mungkin hanya beberapa ratus – yang mengenakan jilbab penuh.

Dan Touati mengatakan penerapan hukum yang didesain untuk membantu hak-hak kaum wanita itu akan berakhir sebaliknya bagi dirinya.

“Karena saya tidak akan melepaskan jilbab ini meskipun jika hukum itu diloloskan, berarti untuk mudahnya saya tidak akan pergi keluar rumah. Orang-orang beranggapan saya terpenjara dengan mengenakan cadar. Penjara adalah tempat di mana mereka akan meletakkan saya dengan mencegah saya bepergian dengan bebas.”

Merespon pernyataan para politisi bahwa jilbab tidak sesuai dengan nilai-nilai Perancis, ia mengatakan, “Memiliki kewarganegaraan adalah satu hal. Memiliki spiritualitas adalah hal lain. Keduanya tidak saling mencegah. Keduanya tidak saling bertentangan. Secara pribadi, saya sepenuhnya Perancis dan sepenuhnya Muslim.”(Suaramedia.com)

Iklan
Kategori:Berita Muslim Tag:
  1. abdul jalil
    8 Mei 2010 pukul 3:03 pm

    mengapa orang barat itu tidak toleran dalam paham individualisme dan liberalismenya.aneh dan egois orang barat itu.

    Suka

  2. JAMES
    26 September 2011 pukul 3:51 am

    Ya taatilah peraturan yang pada tepatnya

    Suka

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: