Beranda > Sejarah > Cuci Otak

Cuci Otak

OPINI ini ditulis terinspirasi pemberitaan tentang cuci otak yang dikaitkan dengan teroris dan Negara Islam Indonesia (NII) yang mulai marak akhir-akhir ini. Label “Islam” dalam dua kasus tersebut sering kali kena getahnya. Selaku seorang muslim dan mempelajari Islam setiap saat, atas tuduhan tersebut sangat menyakitkan. Faktanya tidak demikian, cuci otak ini memiliki sejarah yang cukup panjang, ratusan tahun lalu dilakukan melalui gerakan Zionisme sebagaimana termuat pada protocol IX (4) dari “Protocols of The Meetings of The Elders of Zion” disebutkan; “Dari kitalah semua teror terjadi… Kita telah memanfaatkan mereka semua demi tugas.”

Kathleen Taylor (2011) dalam bukunya “Brainwashing” mengutip pendapat para ahli tentang cuci otak;

  1. Penghilangan secara sistematis dan seringkali dipaksakan ide-ide yang telah ada dari pikiran seseorang, khususnya ide-ide politik sehingga bisa digantikan oleh seperangkat ide lainnya; proses ini dianggap sebagai jenis pengubahan paksa yang dipraktekkan umumnya oleh negara totalitarian pada saat terjadi pertentangan politik;
  2. Mengubah sebuah pikiran secara radikal sehingga pemilik pikiran tersebut menjadi boneka hidup, sebuah robot manusia, dan kejahatan tersebut dilakukan tanpa terlihat dari luar. Tujuannya adalah menciptakan sebuah mekanisme dalam dagin dan darah dengan keyakinan baru dan proses berpikir baru yang diselipkan ke dalam tubuh para tawanan;
  3.  Indoktrinasi yang dipaksakan dan persuasi untuk membujuk seseorang agar melepaskan keyakinan dan sikap religious, sosial dan politik dasarnya serta menerima ide yang bertentangan.

Cuci otak dicirikan dalam istilah-istilah yang selalu bersifat negatif, berbahaya sebagai bentuk pemerkosaan mental, pengendalian pikiran dan tindakan, mengancam kebebasan dan indentitas seseorang yang dimaksudkan untuk menghancurkan keyakinan korban pada kepercayaan sebelumnya dan menyapunya bersih-bersih sehingga kepercayaan baru dapat diadopsi.
Cuci otak adalah suatu proses pendoktrinan secara intensif yang memaksa seseorang untuk meninggalkan keyakinannya untuk suatu keyakinan lain yang baru. Istilah cuci otak sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Istilah ini muncul pertama kali pada tahun 1950 saat perang antara Korea Utara dan Korea Selatan. Saat itu Republik Rakyat Cina (RRC) ikut berperang membela Korea Utara. Sementara Amerika Serikat dan PBB di pihak Korea Selatan. Cuci otak digunakan Amerika Serikat untuk menjelaskan fenomena banyaknya tentara mereka yang tertawan mengalami perubahan keyakinan, pikiran, sikap dan perilaku, misalnya;  menjadi penganut komunis, siap mencela tanah air mereka, menyanyikan lagu pujaan untuk gaya hidup yang diajarkan Mao, dan sangat gigih membela Korea Utara. Sejak itu, Central Intelligence Agency (CIA) dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat terus mengadakan penelitian dan investigasi mendalam untuk mengembangkan teknik cuci otak ini.
Sesungguhnya, jauh sebelumnya, Zionis Yahudi telah melakukan gerakan cuci otak terhadap penduduk Non Yahudi di seantero dunia. Henry Ford (2006) salah satu tokoh terpenting sejarah Amerika Modern dalam bukunya “The Internasional Jew” membongkar makar zionisme internasional tentang pencucian otak tersebut. Dalam sebuah buku yang sangat dirahasiakan itu terungkap program cuci otak yang dilakukan oleh zionis berisikan cuci otak dalam berbagai aspek kehidupan, seperti; politik, kekuasaan, teater, sinema, jazz, music, minuman keras, judi, asusila, korupsi, uang, dan pers. Ideologi zionis secara terus-menerus merasuki sekolah dan kampus karena di institusi pendidikan itu diyakini kebebasan intelektual dan kebebasan berpikir dijunjung tinggi. Program zionisme di bidang pendidikan masyarakat mengupayakan untuk melenyapkan kekuatan pendidikan Non Yahudi dari wajah dunia. Untuk itu strategi pendidikan zionis diarahkan untuk mensekulerkan sekolah-sekolah, kemudian me-Yahudi-kan universitas-universitas.

Cuci otak telah digunakan saat perang dunia I dan II untuk membangun semangat para prajurit Nazi sejak mereka masih remaja. Dengan tujuannya membentuk mental prajurit yang tahan banting dan setia terhadap keyakinan para pemimpin atau partai yang mereka anut. Ketika Hitler berkuasa, dikenal sosok yang sangat menakutkan “Capo”, yakni para tahanan yang telah dicuci otaknya, telah direnggut syahwat kemanusiaannya, bertindak sebagai orang kepercayaan dan memiliki hak istimewa. Capo lebih kejam dari serdadu dan lebih biadab dari binatang buas.
Terdapat empat aspek penting dari konsep cuci otak, yakni;

  1.  Mempunyai tujuan, artinya tindakan yang disengaja dan direncanakan untuk tujuan mencuci otak;
  2. Perbedaan kognitif, artinya terdapat keanehan keyakinan baru dibandingkan dengan keyakinan lama
  3. Rentang waktu, yakni terjadi perubahan keyakinan, artinya semakin singkat waktu transisi antara keyakinan lama dan keyakinan baru, maka semakin besar kemungkinan telah terjadi beberapa bentuk pencucian otak
  4. Penggunaan cuci otak sebagai konsep usaha terakhir.

Pada dasarnya cuci otak adalah sebuah proses sosial yang membutuhkan setidaknya terdapat dua orang yang terlibat di dalamnya. Berbagai strategi cuci otak dilakukan, ada yang dilakukan melalui agen koersif atau paksaan yang dimaksudkan menimbulkan rasa takut korban, dan ada pula yang dilakukan secara tidak langsung berbentuk persuasif melalui modifikasi lingkungan fisik dan sosial. Strategi persuasif umumnya dan diyakini lebih efektif, yakni melalui iklan, media, pendidikan dan pelatihan yang efektif.
Robert Caldini dalam bukunya “Influence” mengemukakan beberapa strategi persuasif cuci otak, yakni melalui; jebakan komitmen konsistensi, menggunakan resiproksitas, mengandalkan pemilik otoritas, dan daya tarik pembujuk.  Selain dua strategi di atas, strategi cuci otak lainnya, seperti hypnosis, testimoni, penghargaan dan hukuman juga sering digunakan.

Dari membaca berbagai literatur, penulis temukan bahwa ilmu pengetahuan tentang pengendalian pikiran termasuk di dalamnya tentang pencucian otak mengalami perkembangan pesat, paradigma tentang pemerolehan ilmu pengetahuan mengalami perubahan. Lahir ke dunia ini sebuah pengetahuan baru bahwa keyakinan, pikiran, dan perilaku manusia dapat dibentuk dan dapat direkayasa sebagaimana yang diinginkan. Sehubungan dengan itu akan hadir ditengah-tengah masyarakat adalah industri dan pabrik pikiran yang sangat mempengaruhi seluruh aktivitas manusia.
Tetapi jangan lupa,

keyakinan seseorang tidak mudah dirampok, karena keyakinan itu adalah milik Allah Swt.

Viktor E. Frankl dalam bukunya “Optimisme” menambah; “Apapun bisa dirampas dari manusia, kecuali satu: kebebasan terakhir manusia, yakni kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan, kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.” ** (www.pontianakpost.com)

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. 24 Juli 2011 pukul 11:49 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: